contact
Test Drive Blog
twitter
rss feed
blog entries
log in

Sabtu, 06 Maret 2010

VIVAnews - Lembaga
Penerbangan dan Antariksa
Nasional (Lapan)
memperkirakan puncak
aktivitas matahari akan terjadi
antara tahun 2012 hingga
2015. Saat itu akan terjadi
badai matahari.
Meski perlu diwaspadai, badai
itu tidak sampai
menghancurkan peradaban di
muka bumi. Yang paling
dirasakan adalah perubahan
iklim yang sanget ekstrem.
Kepala Bagian Hubungan
Masyarakat Elly Kuntjahyowati
dalam rilisnya yang diterima
VIVAnews, Kamis 4 Maret
2010, menuturkan antariksa
memang memiliki fenomena
yang dinamis.
Fenomena ini berupa cuaca
antariksa. Cuaca antariksa
disebabkan aktivitas matahari
yang melontarkan miliaran ton
partikel, plasma berenergi
tinggi, dan radiasi gelombang
elektromagnetik. Lontaran
partikel dan radiasi yang
mengarah ke bumi akan
mempengaruhi lapisan
atmosfer, sistem teknologi,
serta aktivitas manusia di
antariksa dan bumi.
Matahari, kata dia, sebenarnya
memiliki siklus dan tidak diam.
Matahari mengalami ledakan-
ledakan yang bisa sampai ke
bumi. Selain itu, matahari
memiliki berbagai aktivitas
yaitu medan magnet, bintik
matahari, flare (ledakan
matahari), lontaran massa
korona, angin surya, dan
partikel energetik.
"Masyarakat banyak
menghubungkan antara badai
matahari tersebut dengan isu
kiamat 2012 yang berasal dari
ramalan Suku Maya. Ternyata,
dari hasil pengamatan Lapan,
badai matahari tidak akan
langsung menghancurkan
peradaban dunia," kata dia.
Efek badai tersebut yang
paling utama akan dirasakan
pada teknologi tinggi seperti
satelit dan komunikasi radio.
Satelit dapat kehilangan
kendali dan komunikasi radio
akan terputus.
Efek lainnya, aktivitas
matahari juga berkontribusi
terhadap perubahan iklim.
Ketika ativitas matahari
meningkat, maka matahari
akan memanas. Akibatnya,
suhu bumi meningkat dan
iklim berubah. Partikel-partikel
matahari yang menembus
lapisan atmosfer bumi akan
mempengaruhi cuaca dan iklim
bumi. Dampak yang ekstrem
peningkatan aktivitas
matahari diduga dapat
menyebabkan kemarau
panjang. Namun, hal ini masih
dikaji oleh para peneliti.
Untuk menenangkan
masyarakat, Lapan akan
mengadakan sosialisasi
mengenai Fenomena Cuaca
Antariksa 2012 hingga 2015
pada acara seminar Center for
Remote Sensing and Ocean
Sciences (Cresos) International
Symposium on South East Asia
and Pasific Environtemt
Problems and Satellite Remote
Sensing di Universitas
Udayana, Bali.

0

0 komentar:

Posting Komentar

SEbelas iPA saTU

Leave UR Comment

 
 

Our Visitor

Waktu

Download youtube Video

Followers